Rabu, 31 Desember 2014

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim


Ada saat ketika berpuasa sunnah pun dilarang. Padahal ia adalah kebaikan. Pada hari tasyriq, berpuasa bukanlah keutamaan. Justru terlarang. Bukannya berpahala, malah kita berdosa karenanya.

Ada waktu-waktu yang tidak dibolehkan bagi kita mengerjakan shalat. Padahal ia merupakan ibadah yang dicintai Allah Ta'ala. Betapa pun ingin, kita harus menunggu sampai masa terlarangnya berlalu. Mengerjakan shalat di waktu-waktu terlarang, bukanlah ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Bukan pula bukti cinta kepada-Nya.

Tak setiap kebaikan itu baik kita kerjakan setiap saat. Amal shalih justru bisa salah jika dikerjakan bukan pada saat yang tepat atau menjatuhkan kita pada tasyabbuh. Maka kita perlu senantiasa memohon agar ditunjuki dan dimampukan mengerjakan amal shalih yang Allah Ta’ala ridhai (ﺃَﻋْﻤَﻞَ ﺻَٰﻠِﺤًﺎ ﺗَﺮْﺿَﻰٰﻩُ). Inilah do'a yang kita mohonkan kepada Allah Ta'ala:

ﺭَﺏِّ ﺃَﻭْﺯِﻋْﻨِﻰٓ ﺃَﻥْ ﺃَﺷْﻜُﺮَ ﻧِﻌْﻤَﺘَﻚَ ٱﻟَّﺘِﻰٓ ﺃَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻰَّ ﻭَﻋَﻠَﻰٰ ﻭَٰﻟِﺪَﻯَّ ﻭَﺃَﻥْ ﺃَﻋْﻤَﻞَ ﺻَٰﻠِﺤًﺎ ﺗَﺮْﺿَﻰٰﻩُ ﻭَﺃَﺻْﻠِﺢْ ﻟِﻰ ﻓِﻰ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻰٓ ۖ ﺇِﻧِّﻰ ﺗُﺒْﺖُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﺇِﻧِّﻰ ﻣِﻦَ ٱﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".(QS. Al-Ahqaf, 46: 15).

Maka, bersemangat mengerjakan karena memandangnya sebagai amal shalih saja tidak cukup. Kita perlu menimbang, adakah ia termasuk amal shalih yang diridhai-Nya? Ataukah justru menjauh dari ridha-Nya?

Itu sebabnya saya memilih menjauhi acara muhasabah maupun do'a bersama di tanggal 31 Desember malam yang menurut sebagian orang adalah tahun baru karena khawatir tasyabbuh dengan Sylvester Night.

Apakah muhasabah tidak boleh? Bahkan ia sangat baik. Tetapi menetapkan waktunya di akhir tahun, tidak ada tuntunannya dan lebih dekat kepada tasyabbuh. Maka, jika berkegiatan pada waktu tersebut dikarenakan luangnya waktu memang di tanggal itu, kita dapat memilih kegiatan selain muhasabah dan do'a bersama. Banyak ragam kegiatan yang dapat kita lakukan.

Rabu, 26 November 2014

Percayalah Dengan Janji-Nya

Kita sering memperjuangkan sesuatu yang dijanjikan sesama manusia. Apabila bos berkata “jika target tercapai Anda akan dapat ini dan itu” maka serta merta kita akan berusaha mengejarnya. Walau setelah berbagai cara dilakukan terkadang target tak jua didapat.
Seyogyanya, semangat dan antusias kita lebih besar bila yang menjanjikan sesuatu adalah Allah SWT. Memang, janji-Nya terkadang tidak tampak alias tak terlihat. Namun yakinlah bahwa janjinya adalah pasti dan tak mungkin diingkari.
Bila kita merasa miskin-papa maka biasakanlah sholat sunah sebelum subuh karena janji-Nya sholat sunah itu lebih baik dari dunia seisinya. Janganlah kita menjadi manusia yang tak tahu diri. Sudah miskin, hutang banyak namun bangun kesiangan.
Apabila Anda masih mengindap penyakit minder dan tak percaya diri (pede), bersegeralah rajin sholat tahajud. Karena, janji-Nya, Dia akan angkat derajat orang-orang yang rajin mengerjakannya. Jadi obat minder dan gak pede itu gampang, bersujudlah saat kebanyakan orang masih terlelap tidur. Bila Anda merasa rendah dan hina dihadapan Allah maka justru Allah akan mencabut perasaan minder dan gak pede yang ada di hati Anda.
Begitu pula saat hidup Anda sering susah, merasa banyak urusan tak kunjung selesai, hidup terasa semakin sulit maka segeralah memperbanyak menolong orang lain. Bukankah Allah SWT sudah berjanji, “Siapa yang mempermudah urusan orang lain maka Allah SWT akan permudah urusannya.”
Jadi, bila Anda merasa hidup semakin sulit. Segeralah sadari mungkin selama ini Anda terlalu egois hanya fokus pada diri sendiri dan jarang meringankan beban hidup orang lain. Sadar, euy… Sadar!
Masih banyak janji-Nya yang belum kita kejar. Mari kita berlomba ke jalur yang benar. Mengejar sesuatu yang pasti yang dijanjikan oleh yang paling tahu tentang seluk beluk manusia dan dunia seisinya. Dialah Allah SWT. Anda percaya dengan janji-Nya?
Salam SuksesMulia!

Sumber : http://jamilazzaini.com/percayalah-dengan-janji-nya/

Jumat, 07 November 2014

Wonopotro

Selasa 28 Oktober 2014

Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober, kami berziarah ke makam dukuh Glagahombo. satu-satunya makam yang ada di Dukuhku, dimana letaknya yang berada dipuncak bukit Wonopotro sekaligus jalan-jalan menikmati pemandangan dari puncak bukit.

Sudah lebih dari tiga tahun say tidak jalan-jalan ke Wonopotro. wuihhh.. disana selain makam tadi sudah ada Bumi Perkemahan Wonopotro persih dibawah letak kompleks makam itu dan ini bisa sekalian sebagai uji nyali para peserta perkemahan.. he... Katanya juga ada taman marga satwanya, tapi say tidak sempat melihatnya karena hari sudah sore.

 Dari puncak Wonopotro kita bisa melihat indah pemandangan seluruh dukuhku dari sebuah menara yang dibangun diatas bukit Wonopotro, jauh disana ada Waduk Bade. 

Beberapa tahun terakhir ini dukuhku cukup terkenal (terima kasih untuk kang mas Miftahudin-mantan Kades Blumbang) karena beberapa kali dapat mengajak Bapak Bupati Boyolali berkesempatan hadir maupun hanya singgah. Apalagi setelah diresmikan Bumi Perkemahan Wonopotro, sudah berapa rombongan yang melakukan kegiatan perkemahan disana.

Dahulu... hampir setiap minggu say "berpetualang" ke puncak Wonopotro, ngapain... he.. Mencari rumput untuk ternak kami. dan hampir seluruh pelosok sudut Wonopotro sudah kami jelajahi. Bahkan suatu waktu pernah kami "ketakutan" karena banyak tentara dengan senjata lengkapnya seperti mengejar kami, ternyata mereka sedang perjalanan untuk latihan perang.

Kini sepertinya tidak banyak para pemuda yang mengikuti jejak kami, mungkin karena zaman sudah berubah sehingga jarang para pemuda yang jauh menjelajahi Wonopotro hanya untuk mencari rumput. Mereka sudah disibukkan dengan kegiatan sekolah, kepemudaan dan lainnya.

Selamat, semoga Glagahombo dengan Wonopotro-nya semakin maju, semakin banyak "turis" yang datang berkunjung.



Rabu, 15 Oktober 2014

PERLUKAH DAERAH PUNYA STANDAR STATISTIK VERSI SENDIRI?


Akhir-akhir ini BPS dengan angka-angka statistiknya mendapatkan perhatian yang cukup beragam dari para penggunanya. Apalagi sewaktu pencalonan presiden dan wakil presiden lalu. Jejak rekam calon presiden dan wakil presiden dicoba dihubungkan dengan keberhasilannya dengan data statistik yang ada khususnya data statistik yang dikeluarkan oleh BPS (khusus calon yang pernah atau sedang menduduki jabatan publik). Sehingga muncullah berbagai macam interpretasi sesuai dengan pemahaman dan sudut pandang "pengamat" dan pendukung serta masing-masing calon.

Angka statistik yang dikeluarkan BPS yang cukup "laku" adalah angka statistik tentang pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan yang pasti angka kemiskinan. Ketiga angka statistik ini seolah-olah menjadi momok bagi para pemangku jabatan bila angkanya tidak sesuai dengan harapan atau bahkan tidak sesuai dengan "kenyataan" versi mereka.

Gara-gara angka statistik yang dikeluarkan oleh BPS tidak sesuai dengan "kenyakinan"nya, muncullah anggapan bahwa angka tersebut "salah". bahwa angka tersebut tidak sesuai "lapangan", metode dan konsep definisinya perlu dikaji dan diubah kembali (padahal saat ini sudah memakai konsep dan metodologi sesuai arahan Badan Statistik DUNIA - UN). Apakah memang para ahli statistik DUNIA itu tidak paham dengan objek yang diamatinya.

Hingga kemarin seorang "calon" gubernur DKI diberbagai koran media mengatakan bahwa menurutnya selama ini cara untuk mengukur angka kemiskinan dengan menggunakan standar konsumsi kalori 2.500 kalori per hari atau setara dengan pengeluaran Rp347.000 per bulan adalah KONYOL. Ia lebih memilih standar kemiskinan adalah mereka yang penghasilannya dibawah upah minimum provinsi. 

Misalkan DKI memang benar menghitung angka kemiskinan sesuai versi "Ahok" dan menjadi angka kebijakan pemerintah provinsinya, apakah akan bisa dipakai oleh pemerintah pusat dalam mengambil kebijakan untuk pengentasan kemiskinan di Indonesia?.  Apalagi jika nanti setiap daerah menerapkan standar statistik dalam pengukuran keberhasilan daerahnya sesuai keinginan dan versi masing-masing, bagaimana pemerintah RI akan membandingkan dan mengevaluasi keberhasilan masing-masing daerah tersebut. Apakah bisa dibandingkan jika angka pembanding yang akan digunakan mempunyai konsep dan metodologi yang berbeda antar daerah. Silahkan para ahli statistik dan pengamat serta analis menganalisa fenomena ini.

Dan yang sudah pasti akan terkena dampak dari penerapan standar ukuran yang berbeda antar daerah adalah para calon sarjana, calon magister dan calon doktor yang mana tugas akhirnya berkeinginan membandingkan keberhasilan perekonomian antar daerah. Mereka akan kesulitan menerapkan konsep dan metodologi tentang indikator-indikator perekonomian antar daerah. Mereka harus putar otak dan fikiran untuk menemukan konsep dan metode tugas akhirnya. 

Apakah dengan diwacanakan dan diimplementasikan versi standar statistik yang berbeda antar daerah ini akan memunculkan "fenomena" baru dimana antar pemerintah daerah akan saling studi banding untuk menerapkan versi mana yang cocok dengan daerahnya. Hal ini sudah pasti akan memunculkan kembali biaya-biaya operasional untuk studi banding tersebut semacam biaya perjalanan dinas, workshop dan yang pasti honor-honor ikutan lainnya. Sehingga menyebabkan semakin membengkaknya anggaran daerah hanya untuk memunculkan "standar statistik" tersebut.

Tidak akan menjadi masalah dan perbincangan jika hal ini memang terjadi, jika memang pemerintah daerah sungguh-sungguh dalam mencari solusi dari pemecahan masalah yang terjadi di setiap rakyat dan masyarakatnya. Bersungguh-sungguh dalam menemukan metode dan bahan evaluasi kebijakan dalam perencanaan program untuk memajukan, memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya.

Akhirnya, mari kita tunggu wacana dan rencana daerah dalam membuat standar statistik sesuai versi masing-masing...

SALAM PIA

Senin, 06 Oktober 2014

Idul Adha 1435H

 
Selamat merayakan idul Adha 1435H..

Idul Adha sering juga disebut Idul Qurban
Karena disinilah saatnya yang kaya atau mampu berqurban
menunjukkan kepatuhan, ketaqwaan kepada Allah
menunjukkan keikhlasannya dalam berqurban
Menunjukkan rasa solidaritasnya
saling merasakan keindahan kebersamaan

Semoga kita dapat mengambil ibrah/pelajaran
dari peristiwa idul qurban ini
meningkatkan ketaqwaan kepada Allah

 
Kang Din sedang menyembelih hewan Qurban

Jumat, 03 Oktober 2014

Susenas

Bismillah waAlhamdulillah...

jangan lupa untuk selalu bersyukur atas segala nikmat Allah SWT..

Sudah lama say tidak terlibat dalam pengumpulan data 
survei Sosial Ekonmi (SUSENAS)
kira-kira berapa tahun ya.. hampir 4 tahun.. lama juga ya..
dan pada triwulan ketiga tahun 2014 ini 
tugas mulia BPS itu kembali menghampiri.
bukan sebagai pencacah lagi tapi sudah naik pangkat, 
naik pangkat jadi tukang meriksa.. 
dengan jumlah kuesioner masih ada kor, modul.. 
eh.. ternyata ada tambahan modul hansos..
makanan apalagi ya.. 
dengan semangat PIA.. cie.. manggil pia pula..
say kudu siap sedia melaksanakan tugas tersebut...
kudu hafal dan paham konsistensi dan validasinya.. 

satu rumah, dua rumah...
kayaknya lebih gampang nyacah sendiri..
tahu kurang ini kurang itu..
pencacah ayo sini mendekat... 
apa maksudnya ini.. ;- mulai ambil gaya.. he..he..

eh sudah dulu ya.. lanjut dulu..

Alhamdulillah.. salam PIA...

Kamis, 02 Oktober 2014

Prakata

Alhamdulillah...

Hari ini tanggal 1 Oktober 2014 lewat sedikit, say mencoba bermain dengan blog.
Ternyata menulis itu sangat sulit untuk memulainya, apalagi kalau kita jarang atau malah belum pernah menulis.

Semoga dengan memulai ini say bisa mencurahkan isi fikiran yang diberikan Allah SWT dan menjadi lahan ibadah di dunia ini.